#
SRS


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I . KANKER LAMBUNG
a . Anatomi
Organ lambung terletak oblik dari kiri ke kanan menyilang abdomen atas tepat dibawah diagfrahma. Dalam keadaan kosang lambung berbentuk tabung- J, dan bila penuh berbentu seperti buah alpukat raksasa. Kapasitas normal lambung 1 – 2 liter. Lambung terbagi atas fundus, korpus, antrum pilorikum atau pilorus. Sebelah kanan atas lambung terdapat cekungan kurvatura mayor, dan dibagian kiri terdapat cekungan kurvatura minor. Lambung memiliki 2 spinter yaitu diatas spingter cardia, dan dibawah spingter pilorikum.
Lambung terdiri dari 4 lapisan, tunika serosa atau lapisan terluar merupakan bagian dari peritonium viceralis. Lapisan selanjutnya adalah lapisan otot polos lambung atau tunika muskularis yang terdiri dari 3 lapisan otot, yaitu dari paling luar kedalam otot longitudinal, otot sirkular, dan otot obelik, yang semuanya berfungsi untuk megaduk makanan yang masuk kedalam lambung. Lapisan selanjutnya adalah lapisan submukosa, pada lapisn ini terdapat serabut syaraf, pembuluh darah, dan saluran lympe. Lapisan terakhir adalah tunika mukosa. Pada tunika mukosa terdapat kelenjar-kelenjar, yaitu kelenjar kardia dibagian atas dan kelenjar gastrik dibagian bawah. Pada kelenjar gastrik terdapat 3 tipe utama sel, yaitu sel zimogenik atau chief cells yang mengsekresikan pepsinogen, sel parietal yang mengseresikan asam lambung, dan sel mukus (leher) yang mengeluarkan mukus.
Persyarafan lambung dihantarkan oleh sistem sayaraf otonom, yaitu parasimpatis yang diwakili oleh nervus Vagus, dan syaraf simpatis diwakili oleh syaraf splanikus mayor dan seliakum. Darah kelambung disuplai oleh arteri seliaka atau trunkus seliakus, dan dikembalikan melalui vena porta ke organ hati(22).


b. Patologi
Dari semua insidensi kanker lambung yang ada didunia, 50 % berlokasi di bagian bawah lambung (pylori dan antrum), 20 % pada badan lambung (fundus), 20 % pada bagian kurvantura minor, 10 % pada cardia, dan sisanya pada kurvantura mayor. Kanker lambung bagian distal sering tejadi pada orang kulit hitam, dan kanker lambung yang menyerang daerah proximal dari lambung tinggi insidensinya pada orang kulit putih(11).
Lebih dari 90 % dari kanker lambung adalah adenokarsinoma. Adenokarsinoma dapat dibagi menjadi :
- Type difus
Type dari adenokarsinoma yang didalamnya tidak terdapat kohesi sel, mengakibatkan sel yang secara sendiri – sendiri menginfiltrasi dan menebalkan dinding lambung tanpa pembentukan suatu masa yang diskret. Jenis karsinoma ini sering terjadi pada pasien dengan usia lebih muda. Perkembangannya dilambung mencakup kardia berakibat dengan hilangnya densibilitas dinding lambung dan berkaitan dengan prognosis yang jauh lebih jelek.
- Type intestinal
Type dari adenokarsinoma yang ditandai oleh adanya kohesi sel neoplastik yang membentuk stuktur tubuler yang menyerupai kelenjar. Pada type ini sering kali bersifat ulseratif , dan sering tampak didaerah antrum dan kurvatura mayor lambung. Karsinoma tipe intestinal biasanya didahului oleh suatu proses prekanker yang lama. Dan biasanya menyerang pada pasien dengan usia lebih tua(11).


b. Etiologi
Hubungan antara pola diet dengan perkembangan karsinoma lambung adalah penelanan nitrat berkadar tinggi dan jangka waktu lama yang terkandung dalam makanan yang dikeringkan, diasap, dan diasinkan. Nitrat yang masuk akan diubah menjadi nitrit yang karsinogen oleh bakteri. Bakteri tersebut dapat masuk melalui makan yang ditelan, terutama pada masyarakat dengan tinggkat sosio ekonomi yang rendah dan dengan tinggkat kesadaran akan pentingnya kebersihan lingkungan dan diri yang masih rendah pula. Bakteri yang dapat menginfeksi lambung dengan keasaman yang tinggi adalah bakteri heliobacter pylori(6).
Beberapa faktor resiko lainnya adalah adanya ulkus lambung, polip adenomatosa. Selain itu golongan darah juga mempunyai peran, pasien dengan golongan darah A memiliki kemungkinan tinggi untuk terserang kanker lambung dari pada pasien yang memiliki golongan darah selain A(14). Secara praktis faktor resiko dari kanker lambung adalah sebagai berikut :
1 . Umur
Insidensi kanker lambung meningkat pada umur 55 tahun, dan semakin tua umur pasien semakin tinggi pula kemungkinan terjadinya kanker lambung(1,4,5).
2 . Jenis kelamin
jenis kelamin laki-laki memiliki tingkat kencenderungan yang tinggi untuk mengidap kanker lambung dibanding dengan wanita.
3 . Ras/ suku bangsa/ warna kulit
Orang dengan ras Afrika dan Amerika, berwarna kulit hitam lebih memiliki kecenderungan tinggi untuk terserang kanker lambung dibanding orang dari ras Caucasian dan berwarna kulit putih
4 . Faktor kesehatan (16) ( ulkus kronis)
Kanker lambung meningkat insidensinya pada orang dengan riwayat anemia pernisiosa yang disebabkan adanya kerusakan pada mukosa lambung yang lama seperti ulkus lambung kronik, ulkus duodenal kronik, dan kelainan lambung lainnya seperti atropi lambung, dan polip lambung. Kanker lambung juga meningkat pada orang dengan gejala dispepsia tanpa ulkus. Infeksi Heliobakter yang menyertai ulkus juga meningkatkan resiko kanker lambung. Kelinan kongenital seperti achlorihidria gastric polyposis juga dapat meningkatkan resiko kanker lambung.
5 . Bahan karsinogen dan Diet
bahan-bahan penyebab kanker yang masuk melalui mulut dapat meningkatkan resiko terjadinya kankerlambung , seperti alkohol, rokok, dll. Kebiasaan Merokok dan tingginya masukan garam, dan konsumsi buah-buahan yang rendah meningkatkan resiko kanker. Resiko kanker lambung dari perokok lebih tinggi dari yang tidak perokok dan diperberat dengan pemasukan garam yang tinggi serta diet rendah buah- buahan. Peningkatan masukan garam biasanya berhubungan dengan belum atau tidak digunakannya alat pendingin (Cool Case) untuk menyimpan atau mengawetkan makanan dalam jangka waktu yang lama. Makanan disimpan atau diawetkan dengan cara diasinkan dan diasap, sehingga meningkatkan kandungan garamnya. Rendahnya intake buah-buahan berhubungan dengan kondisi geografis daerah tersebut(1,2,13,14,16,17,18).
Penyebab kanker lambung dari pola diet dapat dibagi dalam faktor endogen dan eksogen. Faktor endogen meliputi berkurangnya keasaman lambung, riwayat operasi lambung sebelumnya, gastritis atrofi atau anemia pernisiosa. Dari faktor eksogen makanan yang terkontaminasi bakteri, golongan sosioekonomi yang rendah dengan sanitasi dan higienisitas yang rendah , dan dapat dikurangi dengan pengunaan lemari pendingin, dapat mencegah adanya infeksi dari Heliobakter Pylori(11).

c . Gambaran Klinis
Keluhan yang paling sering pada penderita kanker lambung adalah nyeri perut bagian atas yang beraneka ragam coraknya, dapat ringan dan hilang timbul, sampai dengan rasa sakit yang hebat dan menetap. Tidak jarang rasa nyerinya sama dengan ciri nyeri dari tukak lambung yang klasik. Anoreksia disertai nausea sering dijumpai dan biasanya disertai dengan penurunan berat badan. Bila kanker berdiam di daerah proximal lambung maka dapat menyumbat esofagus dan menimbulkan keluhan disfagia.
Bila terjadi ulserasi pada kanker selain rasa nyeri dapat pula timbul perdarahan dengan gejala hematemeisis dan atau melena. Jika ulserasi terjadi lebih dalam sapai menembus dinding lambung , dapat terjadi perforasi dan kadang- kadangtebentuk suatu hubungan antara lambung dan kolon (gastrocolic fistula).
Secara praktis dapat diringkas gejala-gejala kanker lambung meliputi :
1 . kehilangan berat badan yang tidak dapat dijelaskan
2 . vomitus
3 . rasa nyeri dan tidak enek pada perut bagian atas (uluhati)
4 . rasa terbakar pada saat makan
5 . muntah darah dan atau berak darah
6 . menurun atau hilangnya nafsu makan, dan sakit saat makan(2)
7 . lemah(4).
d . Diagnosis
Untuk dapat menegakan diagnosis kanker lambung, selain dari anamnesis yang ditujukan untuk mengali keluhan-keluhan yang diderita pasien, juga dapat dari riwayat kesehatan pasien. Untuk lebih bisa menegakan diagnosis kanker lambung dapat dilakukan dengan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang dilakukan untuk dapat melihat kanker dari segi topografi, penyebaran, dan lain-lain. Pemeriksaan penunjang yang dapat digunakan untuk mendiagnosis kanker lambung antara lain adalah:
1 . Endoskopi lambung dan duodenum (EMD)
Pemeriksaan ini dilakukan dengan memasukan tabung fleksibel (endoscope) dengan lampu pada ujungnya yang dimasukan melalui mulut, masuk ke esofagus, lambung, dan usus halus. Pemeriksa akan dapat melihat gambaran makroskopik dari saluran pencernaan bagian atas secara jelas, dan juga dapat mengambil sedikit cairan ataupun jaringan untuk dilakukan pemeriksaan sitologi maupun histologi biopsi cairan atau jaringan tersebut.
2 . Rongten lambung dengan kontras
pengambilan foto rongten dilakukan setelah pasien meminum bahan kontras, seperti larutan barium. Kemudian setelah beberapa saat diambil foto abdomen bagian atas. Hasil dari foto tesebut didapatkan gambaran pengisian lambung oleh larutan barium. Dengan pemeriksaan ini pemeriksa dapat melihat gambaran area lambung secara jelas. Untuk mendapatkan foto yang akurat, maka sebelumnya pasien hendaknya puasa semalam supaya tidak terjadi gambaran yang dapat mengaburkan hasil pemeriksaan.
3 . Test darah
Untuk mendeteksi adanya kanker lambung dan untuk meramalkan respon terapi (kemoterapi/radioterapi). Pada kanker lambung CA 19-9 sering dikombinasikan dengan pemeriksaan CEA(19). Pemeriksaan darah juga dapat untuk memeriksa adanya anemia pernisiosa yang ditimbulkan oleh ulkus lambung ataupun kanker lambung. Test darah ini juga untuk melihat adannya melena mikroskopis(4)
4 . Computerized tomography (CT) scan
Pemeriksaan dengan alat canggih ini dilakukan untuk melihat kanker lambung, dan metastasenya ke organ sekitarnya. Dengan pemeriksaan ini dapat di diagnosis dengan akurat dan cermat segala jenis kanker, termasuk kanker lambung(21).
e . Pembagian kanker lambung dalam
Pembagian kanker lambung selain menggunakan kalsifikasi TNM yang lazim di gunakan, juga menggunakan klasifikasi yang didasarkan pada prosesifitas kanker lambung itu sendiri. Menurut penelitian dari The Health Resource, Inc kanker lambung dibagi atas 5 stage dan 1 tipe kambuhan. Pembagiannya adalah sebagai berikut:
- Stage 0
Merupakan kanker lambung yang sangat awal, sel kanker ini terdapat dalam lapisan dalam dari dinding lambung.
- Stage I
Sel kanker terdapat dalam lapis kedua atau ketiga dari dinding lambung dan belum menyebar ke kelenjar lympe sekitar, atau kanker pada lapisan kedua dengan penyebaran ke kelenjar lympe paling dekat.
- Stage II
1 . Sel kanker pada lapisan kedua dinding lambung, dengan penyebaran yang jauh dari tempat kanker
2 . Kanker hanya pada lapisan otot lambung (lapisan ketiga), dan dengan penyebaran kekelenjar lympe yang dekat dengan kanker
3 . Kanker pada seluruh lapisan lambung (keempat lapisan), tanpa adanya penyebaran ke kelenjar lympe sekitar
- Stage III
1 . Kanker pada apisan ketiga dinding lambung , dengan penyebaran ke kelenjar lympe yang jauh dari sel kanker
2 . Kanker pada ke empat lapisan dinding lambung, dengan penyebaran dekat atau jauh dari sel kanker
3 .Kanker pada keseluruhan dinding lambung dan telah menyebar kejaringan sekitar. Kanker mungkin telah menyebar kekelenjar lympe yang dekat dengan sel induk kanker
- Stage IV
Kanker yang terdapat pada keseluruhan dinding lambung, dan telah menyebar kejaringan sekitarnya, dan telah bermetastase melalui kelenjar lympe yang jauh dari induk sel kanker dan telah mengenai organ lain(20).
- Tipe Kambuhan (residif)
Pada jenis kanker tipe kambuhan, sel-sel kanker kembali tumbuh setelah dilakukan pengobatan yang cukup.
f . Terapi
Terapi kanker lambung salah satunya adalah dengan mengambil lambung yang sudah terkena kanker, pengambilan ini ditujukan pada kanker yang sudah menivasi sampai diseluruh kedalaman dinding lambung, dan ada kemungkinan telah menyebar. Berdasarkan cara dan jenis terapinya, terapi kanker lambung dibagi dalm 3 jenis terapi sebagai berikut:
1 . Terapi Bedah
Terapi bedah dengan mengambil seluruh lambung (gastrectomy) merupakan salah satu cara untuk meningkatkan keberhasilan dari terapi kanker lambung. Jika tahap kanker masih awal dan tidak menyebar pengangkatan sebagian dari lambung dapat meningkatkan keberhasilan terapi (subtotal gastrectomy).
2 . Kemoterapi
Kemoterapi diberikan untuk melawan sel kanker melalui obat yang dimasukan melalui darah atau oral. Obat tersebut akan melawan sel kanker dimanapun tempatnya diseluruh tubuh. Kemoterapi dapat juga diberikan setelah terapi bedah untuk membersihkan kanker setelah pembedahan.
3 . Terapi Radiasi
Terapi dilakukan dengan penyinaran menggunakan sinar X, terapi ini biasanya dilakukan sesudah terapi pembedahan, dan biasanya diberikan secara bersamaan dengan kemoterapi(21).
Keberhasilan terapi kanker lambung tergantung pula dari kondisi tubuh pasien dan pengkombinasian terapi yang diberikan. Pemberian teraoi sinar tanpa kombinasi dengan kemoterapi, tidak memberikan efek yang signifikan. Kombinasi keduanya memberikan kekuatan terapi yang adekuat dalam melawan sel kanker, dan dapat meningkatkan harapan hidup pada pasien dengan kanker lambung stadium lanjut. Pemberian terapi kombinasi antara kemoterapi dan penyinaran sebelum dilakukan tindakan operasi dapat mengecilkan ukuran tumor, dan menghindarkan pasien dari operasi pengangkatan lambung secara total. Obat kemoterapi yang diberikan antara lain 5-FU, doksorubisin, mitomicin-C, sisplatin, atau metotreksat dosis tinggi. Dosis penyinaran pada kanker lambung adalah 3500-4000 gray(11).
II . HELIOBACTER PYLORI
a. Jenis

Heliobakter pylori adalah suatu basilus (panjang 0,2 – 0,5 μm), gram negatif, berbentuk spiral dengan flagela multipel yang lebih menyukai lingkungan mikroaerofilik. Kolonisasi heliobakter pylori terjadi 90 %-95 % pada pasien dengan ulkus lambung. Kolonisasi heliobakter pylori meningkat dengan pertambahan umur, pada individu sehat dengan usia dibawah 30 tahun mempunyai angka prevalensi kolonisasi 10 %, dan pada usia diats 60 tahun angka prevalensinya sebanding dengan umur mereka. Heliobacter merupakan bakteri oportunistik yang ada didalam lambung manusia. Pada tahun 1994 Heliobacter Pylori dimasukan dalam golongan karsinogen klas I (4, 19, 13, 21)
H. Pylori menyerang jaringan , bakteri ini menghuni dalam gel lendir yang melapisi sel epitel, dengan bagian kecil dari tubuhnya yang menempel pada epithelial (12). Kuman tumbuh pada permukaan dinding lambung dan menghasilkan enzim yang dapat merusak lapisan mukosa lambung. Kuman ini sering didapatkan pada kasus gastritis (radang lambung) kronik dan tukak lambung dan duodenum (usus dua belas jari). Telah terbukti saat ini bahwa infeksi yang
disebabkan oleh helicobacter pylori pada lambung bisa menyebabkan peradangan
mukosa lambung yang disebut dengan gastritis Proses ini bisa berlanjut hingga
terjadi ulkus/tukak bahkan kanker lambung(6).
b . Cara Masuk
Kuman heliobacter pylori masuk kedalam lambung manusia melalui makanan atau barang-barang yang terkontaminasi oleh kuman tersebut dan tertelan masuk(3). Cara masuk kuman heliobacter pylori ini berhubungan erat dengan rendahnya kesadaran akan kebersihan linkungan dan diri pada masyarakat yang banyak terinfeksi heliobacter pylori. Pada negara-negara dengan kondisi sosial ekonomi yang masik rendah seperti di Afrika, Amerika Selatan dan sebagian Asia, tingkat insidensi dari infeksi heliobacter pylori mencapai lebih dari 20%-50 % dari total penduduk (2, 5, 8, 9, 15). Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Parsonnet’s di Cina mendapat bahwa lebih dari 6 % anak-anak di Cina telah terinfeksi kuman heliobacter pylori, dan lebih dari 85 % terinfeksi dibawah umur 10 tahun(8).
c. Patogenesis
Infeksi dari kuman heliobacter pylori dapat menyebabkan adanya gangguan dalam lambung dari yang paling ringan sampai pada terjadinya gangguan berat seperti kanker lambung. Heliobacter pylori merupakan kuman yang sanggup hidup di dalam lambung dengan kondisi linkungan yang sangat asam, hal ini disebabkan karena kuman heliobacter pylori dapat menghasilkan enzim ureum hidrolisis yang dapat membantu kuman untuk memecah urea menjadi amonia dan karbondioksida. Hasil dari pemecahan urea oleh kuman heliobacter pylori digunakan untuk mengatasi keasaman dengan cara menaikan pH lambung, sehingga H. pylori dapat hidup dan tumbuh di lambung.
Heliobacter pylori mengikat kuat pada epitel lambung dengan menggunakan berbagai macam alat yang melekat pada tubuhnya, dan dibantu dengan adanya mediator adhesi sel. Setelah melekat pada epitel dinding lambung H. pylori mengeluarkan eksotoxin yang berupa bicarbonat dan anion organik yang dimasukan kedalam sel epithel.
Membran sel lambung yang terinfeksi akan merangsang peningkatan kadar interlukin-1β, interlukin-2, interlukin-6, interlukin-8, dan tumor necrosis faktor. H. pylori menginduksi interlukin-8, respon ini kemudian mengaktifkan Nuclei Naktor-R (NF-R) yang merupakanm respon awal dari aktivitas protein-1 (AP-1), yang berakibat fagositosis buta. H.pylori juga menginduksi sistem humoral pada mukosa lambung. Antibodi yang diprosuksi tidak berperan dalam eradikasi kuman, melaikan ikut serta dalam proses perusakan mukosa lambung. Respon ini juga mengakibatkan terjadinya reaksi autoantibody secara langsung yang berperan dalam penurunan sekresi asam lambung oleh sel parietal, sehingga meningkatkan terjadinya atrofi pada corpus lambung yang pada akhirnya dapat memacu timbulnya kanker lambung.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Uemura et al. di Kure Kiyosai Hospital dengan melibatkan 1526 pasien dengan ulkus atau tanpa ulkus dan disertai dengan adanya infeksi dari H. pylori. Didapatkan hasil 2,9 % pasien menderita kanker lambung. Penelitian ini dilakukan dalam kurun waktu 7,8 tahun sejak 1993 sampai 2000. dari penelitian tersebut juga didapatkan bahwa resiko tertinggi kanker lambung terjadi pada pasien dengan ulkus lambung, lambung polip hiperplasi, dan dyspepsi tanpa ulkus, sedangkan pada pasien dengan ulkus duodenal tidak merupakan faktor resiko kanker lambung. Kanker lambung yang banyak terjadi pada penelitian ini adalah kanker lambung tipe intestinal.
Masalah yang timbul dari penelitian Uemura diatas adalah, apakah pengobatan pada infeksi H. pylori dapat menurunkan resiko kanker lambung. Pertannyaan ini dijawab oleh penelitian yang diadakan oleh Hansson et al. yang dalam penelitiannya mendapatkan jawaban atas pertanyaan diatas, bahwa kanker lambung tidak akan terjadi pad pasien gastritis dengan infeksi H. pylori yang diobati dengan adekat dan tepat.
Dari penelitian lain yang diadakan oleh Correa et el. Mendapatkan bahwa ada indikasi tentang infeksi kronis H.pylori menyebabkan pertumbuhan progersif dalam kurun waktu 10 tahun dari tahapan gastric kronik, atipik, interstinal metaplasi, displasi, dan kanker lambung (4. 7, 8, 9, 10, 11,15, 16, 20, 21).
Dari penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para ahli diatas dapat ditari suatu hipotesis bahwa peranan infeksi Heliobacter Pylori pada ulkus lambung dan hubungannya dengan peninggkatan kasus kanker lambung adalah, adanya reaksi infeksi kronik yang menimbulkan kerusakan berupa gastritis yang dapat berkembang menjadi atipi lambung, interstinal metaplasi, dysplasi, dan terakhir adalah kanker lambung. Sehingga secara rasional dan telah dibuktikan bahwa pengibatan infeksi heliobacter pylori yang adekuat dan tepat dapat menurunkan kasus kanker lambung.
d. Gejala Infeksi Heliobacter Pylori
Secara nyata gejala khas dari infeksi heliobacter pylori adalah tidak tampak. Gejala adanya infeksi heliobacter pylori tampak jika disetai dengan adanya kerusakan mukosa lambung seperti ulkus. Gejala gejala yang timbul karena ulkus yang disertai dengan infeksi heliobacter pylori adalah
1 . Rasa terbakar, panas, enek, atau perut yang terasa sangat penuh pada perut atas/epigatrium, yang timbul episodik. Nyeri biasanya menjalar kepunggung atau kuadran atas
2. Rasa sakit bertambah bila keadaan lambung kosong, yang terjadi diantara waktu makan, dan sat tidur malam, namun keadaan ini dapat terjadi terus menerus sepanjang hari, sampai beberapa minggu
3 . Sembuh dengan minum antasid, susu, atau obat yang dapat mengurangi sekrasi asam lambung
4 . Ditambah gejala-gejala umum dari ulkus seperti nausea, vomiting, dan hilangnya nafsu makan
5 . Dapat pula terjadi perdarahan. Perdarahan ini mungkin yang menyebabkan terjadinya anemia dan kelemahan. Jika perdarahan hebat dapat terjadi hematemesis dan atau melena (1, 3, 8, 11, 15, 17).
Pada pemeriksan fisik ditemukan nyeri tekan pada epigastrium, atau pada garis tengah antara pusar dan prosesus xifoideus, jika telah terjadi perforasi kedalam rongga peritoneum, maka akan didapatkan kekakuan dinding abdomen. Abdomen keras seperti papan, disertai nyeri lepas tekan (reboun tenderness). Dari auskultasi abdomen didapatkan pada awalnya bunyi usus meningkat, dan dalam perkembangannya semakin lama semakain menurun, sampai hilang . Pada kulit dapat dilihat adanya kulit dan selaput lendir yang berwarna pucat, yang merupakan tanda-tanda anemia (11).
e . Pemeriksaan Heliobacter Pylori
Untuk mengetahui adanya kuman Helicobacter pylori dapat dilakukan berbagai test. Pemeriksaan dapat dilakukan melalui test napas karena kuman menghasilkan enzim urease yang dapat dideteksi melalui napas. Selain itu dapat juga dilakukan pemeriksaan darah. Pada pemeriksaan darah dapat ditemukan antibodi terhadap kuman. Melalui pemeriksaan gastroskopi dapat dilakukan pemeriksaan histopatologi dan biakan kuman (6). Pemeriksaan adanya infeksi dari kuman Heliobacter Pylori adalah :
1 . Test Serologi
Dasar dari tes ini adalah reksi antara antigen dan antibody. Antigen yang dikeluarkan oleh kuman heliobacter Pylori akan berikatan dengan antibody yang dibentuk oleh tubuh dan berfungsi mengenali, dan melawan kuman tersebut, antibody yang digunakan adalah Imunoglobilin G (Ig G), yang meningkat bila seseorang terinfeksi oleh kuman heliobacter Pylori. Test ini memiliki sensitivitas dan spesifisitas 80 %-95 % untuk mendiagnosis atau mengetahui adanya infeksi.
2 . Test nafas ureum
Dasar dari pemeriksaan ini adalah sifat dari kuman heliobacter Pylori yang dapat dengan cepat mengubah urea menjadi ammonia dan karbon dioksida. Pada test ini pasien di berikan salah satu dari tablet 13C atau 14C untuk diminum. Kuman Heliobacter akan dengan cepat merubah tablet urea tersebut dan menghasilkan amonia dan karbondioksida. Setelah kurang lebih 15 –20 menit setelah minum tablet pasien disuruh bernafas dan diukur kandungan ureumnya. Angka sensitivitas dan spesifisitas dari test ini cukup tinggi, sekitar 94 %- 98 %. Test ini adalah test yang lazim digunakan untuk mendiagnosis adanya infeksi heliobacter Pyori, karena disamping mudah juga biaya yang dibutuhkan untuk test ini relatif cukup murah.
3 . Endoscopy dan biopsy cairan lambung dan duodenal
Cara ini adalah cara yang memiliki tingkat sensitivitas dan spesifisitas mendekati 100 %, dimana pada test ini dimasukan tabung fleksibel yang dilengkapi dengan kamera kecil melalui saluran pencernaan menuju ke lambung dan duodenal untuk melihat adanya kolonisasi dari kuman H. pylori. Pemeriksaan ini juga dapat digunakan untuk mengambil spesimen dari cairan lambung untuk dibiakkan dalam kultur, sehingga dapat diketahui secara pasti kuman apa yang telah berdiam didalam lambung serta menimbulkan masalah (3, 17).
Pengguanan pemeriksaan penunjang dalam menegakan diagnosis infeksi heliobacter pylori yang menyertai ulkus lambung atau duodenum, merupakan hal yang dapat menunjang pemberian terapi yang rasional dan adekuat dalam penanganan infeksi tersebut.
e . Terapi
Terapi yang diberikan pada pesian dengan infeksi heliobacter pylori, adalah diberikan antibiotik broad spektrum yang dapat mencapai kuman dalam suasana asam. Terapi infeksi heliobacter pylori diberikan dengan mengkombinasikan 3 macam obat, yang diberikan selama 10 hari sampai 2 minggu. Obat yang diberikan berupa antibiotik amoxicillin, tetracyline (tidak boleh diberikan pada anak-anak dibawah usia 12 tahun), metronidazol, atau clarithomycin yang ditambah dengan ranitidin Bismuth Citrate, Bismuth Subsalicylate, dan atau inhibitor pompa proton. Obat lain yang dapat diberikan bersamaan dengan obat-obat diatas adalah obat-obat simtomatis. Pemberian obat simtomatis untuk mengurangi keluhan yang biasanya makin memberat dan menyebabkan kondisi fisik dan psikis pasien menurun. Yang pada akhirnya dapat memperburuk keadaan pasien.oabt yang diberikan seperti H2 Bloker, atau inhibitor pompa proton. Keberhasilan pengobatan infeksi heliobacter pylori dengan mengunakan kombinasi beberapa obat mencapai 61 %-94 %. Kegagalan dalam pengobatan terjadi karena adanya resistensi kuman terhadap obat (1, 2, 3, 11, ).

DAFTAR PUSTAKA
1. Levenstein . S.,1998., Strees and peptic ulcer: Life beyond heliobacter.
http://www.bmj.com/article.html

2. Meurer .L.N., 2002., Managemen of Heliobacter Pylori
http://www.bmj.com/article.html

3. Health Communication Activity Division of Bacterial and Mycotis Disease .,2001.,Heliobacter Pylori and Peptic Ulcer Disease
http://www.bmj.com/article.html

4. American Gastroenterological,2002. Gastric cancer
http://www2.gastrojournal.org/scripts/html

5 . Tapan . E .,2000 Apakah Penyakit Maag itu Bisa Menular ?
http://groups.yahoo.com/group/management-message/html

6 . Djauzi . S . Infeksi Lambung. Kompas Minggu 31 Maret 2002
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0203/31/IPTEK/kons22.htm

7 . McCook . A ., 2003 News Idea on How Gut Bacteria Cause Ulcer, Cancer
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/news/fullstory/html

8 . Michell . H. M . et.al ,.2000., Heliobacter Pylori, Gastric ulcer, and Duodenal Ulcer
http://content.nejm,org/cgi/content/full/html

9 Uemura .N,M.D . et.al .,2000. Heliobacter Pylori Infection and the Development of Gastric Cancer,
http://content.nejm.org/cgi/content/short/html

10 . Ysubono .T,.et.al.,2002., Green Tea and the Risk of Gastric Cancer in Japan
http://content.nejm.org/cgi/content/short/html

11. Horrison., Neoplasma Esophagus dan lambung, Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Alih bahasa Asdie., ed 13, vol 4, EGC, Jakarta, 2000, hal 1554

12. Tan H.T. et al., 2001., Obat-obat penting, ed 5, PT Elex Media Komputindo, Jakarta,2001, hal 602&798

13. National Cancer Institut .Robert N. Hoover,2002., Cancer- Nature,Nurture, or Both
http://content.nejm.org/cgi/content/short/html

14. Sarwono Waspadji, Tumor Lambung: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Noer S, Edotor, Jilid I, Edisi 3, FKUI, Jakarta, 1996, Hal 597

15. Fox J. G., 2002., Helicobacter pylori — Not a Good Bug after All
http://content.nejm.org/cgi/content/short/html

16. Oncology Channel.,2003.,: Gastric cancer
http://oncologychannel.com/gastriccancer/html

17. Jackson Gastroenterology, : Heliobacter Pylori
http://jacksongastroenterology.com/h.pylory/educatoin/html

18. Mira,1997., Memperbaiki Pola Makan Mencegah Kanker
http://members.tripod.com/~LIKonline/edisi/ed03.html


19. Prodia Indonesia,2003., Penanda Kanker Lambung
http://www.prodia.co.id/isi_manfaat_panel.html

20. The Health Resource, Inc., 2002.,Stomach cancer (Gastric Cancer)
http://www.thehealthresource.com/cancer_info/stomach_cancer.html

21. MayoClinic.com., 2001., Stomach Cancer
http://www.cnn.com/HEALTH/library/DS/00301.html

22. Radikal Bebas dan Antioksidan
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0305/11/fokus/306284.html

23. Radikal Bebas
http://mxl.itb.ac.id/pipermaili/dokter/20003-may/000149.html

24. Vitamin E mampu neutralkan Radikal Bebas
http://www.medic.uum.edu.mx/vitamin_E/html

25. Peranan Radikal Bebas dan antioksidan dalam kesehatan
http://dbp.gov.mx/mab 2000/penerbitan/rampak/premaar.pdf

26. Radikal Bebas
http://www.sunhope.co.id/ingid/produk/sod.html

Labels: | edit post
Reactions: 
0 Responses

Post a Comment